Powered By Blogger

Jumat, 07 Januari 2011

TUM-BANG(TUMBUH-KEMBANG)


TUM-BANG(TUMBUH-KEMBANG)


Penilaian tumbuh kembang perlu dilakukan untuk menentukan apakah tumbuh kembang seorang anak berjalan normal atau tidak,baik dilihat dari segi medis atau pun statistik, anak yang sehat akan menujukkan tumbung kembang yanng optimal, apabila diberikan lingkungan bio-fisika-psikasosial yang adekuat. Proses tumbuh kembang merupakan proses yang berkesinambungan mulai dari konsepsi sampai dewasa mengikuti pola tertentu yang khas untuk setiap anak.proses tersebut merupakan proses interaksi yang terus menerus serta rumit antara faktor genetik dan faktor lingkungan bio-psikasosial tersebut.
Berat badan merupakan ukuran antrometri yang terpenting dipakai pada setiap kesempatan, memeriksa anak pada semua kelompok umur. Berat badan merupakan hasil peningkatan / penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh. Berat badan dapat dipakai sebagai indikator yang terbaik pada saat ini untuk mengetahui keadaan gizi dan tumbuh kembang anak. Pertumbuhan adalah berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel atau organ yang bisa diukur.Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur sebagai hasil dari proses pematangan.
TUMBUH KEMBANG BALITA


  1. Pengertian Balita
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan, sedang dalam proses tumbuh kembang, mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, spikologis, sosial, dan spiritual) yang berbeda dengan orang dewasa, sedangkan yang dimaksud balita berasal dari akronim bawah lima tahun, yang artinya anak usia lebih dari 12 bulan/1 tahun tapi tidak lebih dari 60 bulan/5 tahun. Balita adalah objek yang mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh posyandu. Balita adalah anak yang berusia 1 - 5 tahun. Pada masa balita ini terdapat usia yang sangat rawan yaitu anak usia 1 sampai 2 tahun (baduta), bahkan sampai 3 tahun (batita). Oleh karena balita adalah sebagian objek yang mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh posyandu.


B. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
1. Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel atau organ yang bisa diukur.
2. Perkembangan
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur sebagai hasil dari proses pematangan.


C. Tahap Pertumbuhan Anak
Pertumbuhan anak terdiri dari 4 masa :
1. Masa prenatal;
2. Masa bayi : Usia 0 – 1 tahun
  • Masa neonatal dini : 0 – 7 hari
  • Masa neonatal lanjut : 8 – 28 hari
  • Masa pasca neonatal : 29 hari – 1 tahun
3. Masa prasekolah : usia 1 – 6 tahun
4. Masa sekolah : usia 6 – 18/20 tahun
a. Masa praremaja : usia 6 – 10 tahun
b. Masa remaja:
  • Masa remaja dini untuk :
Wanita : usia 8 – 13 tahun
Pria : usia 10 – 15 tahun
  • Masa remaja lanjut
Wanita :usia 13 – 18 tahun
Pria : usia 15 – 20 tahun


Pada umumnya anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan normal yang merupakan hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tumbuh kembang anak antara lain:
FAKTOR DALAM
  • Ras/etnik atau bangsa : Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia tidak memilki faktor herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya
  • Keluarga: Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek, gemuk atau kurus
  • Umur : Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah masa prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja.


  • Jenis kelamin : fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat daripada laki-laki.. Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat
  • Genetik : adalah bawaan anak yaitu potensi anak yang akan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak seperti kerdil.
  • Kelainan kromosom : Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan pertumbuhanseperti pada sindroma Down's dan sindroma Turner's.




FAKTOR LUAR
Faktor prenatal
  • Gizi : Nutrisi ibu hamil terutama dalam trisemester akhir kehamilan akan mempengaruhipertumbuhan janin
  • Mekanis : Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kongenital seperti club foot
  • Toksi/zat kimia :beberapa obat-obatan dapat menyebabkan kelainan kongenital.
  • Radiasi Paparan radium dan sinar rontgen dapat kelainan pada janin seperti deformitas anggota gerak
  • Infeksi : Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh virus TORCH dapat menyebabkan kalainan pada janin, katarak, bisu tuli, retasdasi mental dam kelainan jantung.
  • Kelainan imunologi : Adanya perbedaan golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibodi terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk dalam peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang selanjutnya mengakibatkan kerusakan jaringan otak
  • Psikologi ibu : Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakukan salah/kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain.
FAKTOR PERSALINAN
Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat menyebabkan keruskaan jaringan otak.
FAKTOR PASCASALIN
  • Gizi : untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat
  • Penyakit kronis/kelainan kongenital : tuberkolosis, anemia, kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi pertumbuhan jasmani
  • Lingkukan fisis dan kimia : Lingkungan sebagai tempat anak hidup berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak. Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnnya sinar matahari, paparan sinar radioaktif, zat kimia tertentu mempunya dampak yang negatif terhadap pertumbuhan anak.
PSIKOLOGIS
Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu merasa tertetkan, akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan perkembangannya
SOSIO-EKONOMI
Kemisikinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan, akan menghambat pertumbuhan anak.
LINGKUNGAN PENGASUHAN
Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu anak sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak .
STIMULASI
Pertumbuhan memerlukan rangsang/stimulasi khususnya dalam keluarga, misalnya penyediaan alat mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak.
OBAT-OBATAN
Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghamba pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang terhadap susunan saraf yang menyebabkan terhambatnya produksi hormon pertumbuhan




E. TEORI PERKEMBANGAN
1. Sigmeun Freud (Perkembangan Psychosexual)
a. Fase Oral (0 – 1 tahun)
Pusat aktivitas yang menyenagkan di dalam mulutnya, anak mendapat kepuasaan saat mendapat ASI, kepuasan bertambah dengan aktifitas mengisap jari dan tangannya atau benda – benda sekitarnya.
b. Fase Anal (2 – 3 tahun)
Meliputi retensi dan pengeluaran feces. Pusat kenikmatanya pada anus saat BAB, waktu yang tepat untuk mengajarkan disiplin dan bertanggung jawab.
c. Fase Urogenital atau faliks (usia 3 – 4 tahun)
Tertarik pada perbedaan anatomis laki dan perempuan, ibu menjadi tokoh sentral bila menghadapi persoalan. Kedekatan anak laki – laki pada ibunya menimbulkan gairah sexual dan perasaan cinta yang disebut oedipus compleks.
d. Fase Latent (4 – 5 tahun sampai masa pubertas)
Masa tenang tetapi anak mengalami perkembangan pesat aspek motorik dan kognitifnya. Disebut juga fase homosexual alamiah karena anak – anak mencari teman sesuai jenis kelaminnya, serta mencari figur (role model) sesuai jenis kelaminnya dari orang dewasa.
e. Fase Genitalia
Alat reproduksi sudah mulai matang, heteroseksual dan mulai menjalin hubungan rasa cinta dengan berbeda jenis kelamin.


2. Piaget (Perkembangan Kognitif)
Meliputi kemampuan intelegensi, kemampuan berpersepsi dan kemampuan mengakses informasi, berfikir logika, memecahkan masalah kompleks menjadi simple dan memahami ide yang abstrak menjadi konkrit, bagaimana menimbulkan prestasi dengan kemampuan yang dimiliki anak.
  1. Tahap sensori – motor ( 0 – 2 tahun)
Perilaku anak banyak melibatkan motorik, belum terjadi kegiatan mental yang bersifat simbolis (berpikir). Sekitar usia 18 – 24 bulan anak mulai bisa melakukan operasional, awal kemampuan berfikir.
b. Tahap pra operasional ( 2 – 7 tahun)
  • Tahap pra konseptual (2 – 4 tahun)
Anak melihat dunia hanya dalam hubungan dengan dirinya, pola pikir egosentris. Pola berfikir ada dua yaitu : transduktif ; anak mendasarkan kesimpulannya pada suatu peristiwa tertentu ( ayam bertelur jadi semua binatang bertelur ) atau karena ciri – ciri objek tertentu ( truk dan mobil sama karena punya roda empat ). Pola penalaran sinkretik terjadi bila anak mulai selalu mengubah – ubah kriteria klasifikasinya. Misal mula – mula ia mengelompokkan truk, sedan dan bus sendiri – sendiri, tapi kemudian mengelompokan mereka berdasarkan warnanya, lalu berdasarkan besar – kecilnya, dst.
  • Tahap intuitif( 4 – 7 tahun)
Pola pikir berdasar intuitif, penalaran masih kaku, terpusat pada bagian bagian terentu dari objek dan semata – mata didasarkan atas penampakan objek.
c. Tahap operasional konkrit ( 7 – 12 tahun)
Konversi menunjukan anak mampu menawar satu objek yang diubah bagaimanapun bentuknya, bila tidak ditambah atau dikurangi maka volumenya tetap.Variasi menunjukan anak mampu mengklasifikasikan objek menurut berbagai macam cirinya seperti : tinggi, besar, kecil, warna, bentuk, dst.
d. Tahap operasional – formal (mulai usia 12 tahun)
Anak dapat melakukan representasi simbolis tanpa menghadapi objek – objek yang ia pikirkan. Pola pikir menjadi lebih fleksibel melihat persoalan dari berbagai sudut yang berbeda.
3. Erikson (Perkembangan Psikososial)
Proses perkembangan psikososial tergantung pada bagaimana individu menyelesaikan tugas perkembangannya pada tahap itu, yang paling penting adalah bagaimana memfokuskan diri individu pada penyelesaian konflik yang baik itu berlawanan atau tidak dengan tugas perkembangannya.
  1. Trust vs. Misstrust ( 0 – 1 tahun)
Kebutuhan rasa aman dan ketidakberdayaannya menyebabkan konflik basic trust dan misstrust, bila anak mendapatkan rasa amannya maka anak akan mengembangkan kepercayaan diri terhadap lingkungannya, ibu sangat berperan penting.
  1. Autonomy vs shame and doubt ( 2 – 3 tahun)
Organ tubuh lebih matang dan terkoordinasi dengan baik sehingga terjadi peningkatan keterampilan motorik, anak perlu dukungan, pujian, pengakuan, perhatian serta dorongan sehingga menimbulkan kepercayaan terhadap dirinya, sebaliknya celaan hanya akan membuat anak bertindak dan berfikir ragu – ragu. Kedua orang tua objek sosial terdekat dengan anak.
  1. Initiatif vs Guilty (3 – 6 tahun)
Bila tahap sebelumnya anak mengembangkan rasa percaya diri dan mandiri, anak akan mengembangkan kemampuan berinisiatif yaitu perasaan bebas untuk melakukan sesuatu atas kehendak sendiri. Bila tahap sebelumnya yang dikembangkan adalah sikap ragu-ragu, maka ia akan selalu merasa bersalah dan tidak berani mengambil tindakan atas kehendak sendiri.
  1. Industry vs inferiority (6 – 11 tahun)
Logika anak sudah mulai tumbuh dan anak sudah mulai sekolah, tuntutan peran dirinya dan bagi orang lain semakin luas sehingga konflik anak masa ini adalah rasa mampu dan rendah diri. Bila lingkungan ekstern lebih banyak menghargainya maka akan muncul rasa percaya diri tetapi bila sebaliknya, anak akan rendah diri.
  1. Identity vs Role confusion ( mulai 12 tahun)
Anak mulai dihadapkan pada harapan – harapan kelompoknya dan dorongan yang makin kuat untuk mengenal dirinya sendiri. Ia mulai berpikir bagaimana masa depannya, anak mulai mencari identitas dirinya serta perannya, jika ia berhasil melewati tahap ini maka ia tidak akan bingung menghadapi perannya.
  1. Intimacy vs Isolation ( dewasa awal )
Individu sudah mulai mencari pasangan hidup. Kesiapan membina hubungan dengan orang lain, perasaan kasih sayang dan keintiman, sedang yang tidak mampu
melakukannya akan mempunyai perasaan terkucil atau tersaing.
  1. Generativy vs self absorbtion ( dewasa tengah )
Adanya tuntutan untuk membantu orang lain di luar keluarganya, pengabdian masyarakat dan manusia pada umumnya. Pengalaman di masa lalu menyebabkan individu mampu berbuat banyak untuk kemanusiaan, khususnya generasi mendatang tetapi bila tahap - tahap silam, ia memperoleh banyak pengalaman negatif maka mungkin ia terkurung dalam kebutuhan dan persoalannya sendiri.
  1. Ego integrity vs Despair ( dewasa lanjut )
Memasuki masa ini, individu akan menengok masa lalu. Kepuasan akan prestasi, dan tindakan-tindakan dimasa lalu akan menimbbulkan perasaan puas. Bila ia merasa semuanya belum siap atau gagal akan timbul kekecewaan yang mendalam.
4. Kohlberg (Perkembangan Moral)
    1. Pra-konvensional
Mulanya ditandai dengan besarnya pengaruh wawasan kepatuhan dan hukuman terhadap prilaku anak. Penilaian terhadap prilaku didasarkan atas akibat sikap yang ditimbulkan oleh perilaku. Dalam tahap selanjutnya anak mulai menyesuaikan diri dengan harapan – harapan lingkungan untuk memperoleh hadiah, yaitu senyum, pujian atau benda.
    1. Konvensional
      Anak terpaksa menyesuaikan diri dengan harapan lingkungan atau ketertiban sosial agar disebut anak baik atau anak manis
      .
    2. Purna Kkonvensional
Anak mulai mengambil keputusan baik dan buruk secara mandiri. Prinsip pribadi mempunyai peranan penting. Penyesuaian diri terhadap segala aturan di sekitarnya lebih didasarkan atas penghargaannya serta rasa hormatnya terhadap orang lain.
5. Hurolck (Perkembangan Emosi)
Menurut Hurlock, masa bayi mempunyai emosi yang berupa kegairahan umum, sebelum bayi bicara ia sudah mengembangkan emosi heran, malu, gembira, marah dan takut. Perkembangan emosi sangat dipengaruhi oleh faktor kematangan dan belajar. Pengalaman emosional sangat tergantung dari seberapa jauh individu dapat mengerti rangsangan yang diterimanya. Otak yang matang dan pengalaman belajar memberikan sumbangan yang besar terhadap perkembangan emosi, selanjutnya perkembngan emosi dipengaruhi oleh harapan orang tua dan lingkungan.


F. PEMANTAUAN PERKEMBANGAN DENVER II
1. Pengertian
Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver Development Screening Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R). DDST adalah salah satu metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Waktu yang dibutuhkan antara 15 – 20 menit.
2. Tujuan
Adapun tujuan dari DDST II antara lain sebagai berikut :
  1. Mendeteksi dini perekembangan anak;
  2. Menilai dan memantau perkembangan anak sesua usia (0 – 6 tahun);
  3. Salah satu antisipasi bagi orang tua;
  4. Identifikasi perhatian orang tua dan anak tentang perkembangan;
  5. Mengajarkan perilaku yang tepat sesuai usia anak.
3. Aspek Perkembangan yang dinilai
Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai antara lain sebagai berikut :
  1. Personal Social (perilaku sosial)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
  1. Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.
  1. Language (bahasa)
Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan.
  1. Gross motor (gerakan motorik kasar)
Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh


4. Pelaksanaan DDST II
a. Tahap Pengkajian
  • Kaji pengetahuan keluarga/ anak mengenai DDST II;
  • Kaji pengetahuan tentang tumbang normal dan riwayat sosial;
  • Tentukan/ kaji ulang usia kronologis anak.
b. Cara pemerikasaan DDST II
  • Buat garis lurus dari atas sampai bawah sesuai usia anak pada lembar DDST II.
  • Uji semua item dengan cara :
  1. Pertama pada tiap sektor, uji 3 item yang berada di sebelah kiri garis umur tanpa menyentuh batas usia;
  2. Kedua uji item yang berpotongan pada garis usia;
  3. Ketiga item sebelah kanan tanpa menyentuh garis usia sampai anak gagal.
c. Tanda item penilaian
  • O = F (Fail/gagal)
Bila anak tidak mampu melakukan uji coba dengan baik, ibu/pengasuh memberi laporan anak tidak dapat melakukan tugas dengan baik.
  • M = R (Refusal/menolak)
Anak menolak untuk uji coba.
  • V = P (Pass/lewat)
Apabila anak dapat melakukan uji coba dengan baik, ibu/pengasuh memberi laporan tepat/dapat dipercaya bahwa anak dapat melakukan dengan baik.


  • No = No Opportunity
Anak tidak punya kesempatan untuk melakukan uji coba karena ada hambatan, uji coba yang dilakukan orang tua.
5. Interpretasi dari Nilai Denver II
a. Advanced
Bila anak mampu melaksanakan tugas pada item disebelah kanan garis umur, lulus kurang dari 25% anak yang lebih tua dari usia tersebut.
  1. Normal
Bila anak gagal/ menolak tugas pada item disebelah kanan garis umur, lulus/gagal/menolak pada item antara 25-75% (warna putih).
  1. Caution
Tulis C pada sebelah kanan blok, gagal/menolak pada item antara 75-100% (warna hijau).
  1. Delay
Gagal/menolak item yang ada disebelah kiri dari garis umur.






Selasa, 04 Januari 2011

MEKANISME KOPING

MEKANISME KOPING
Mekanisme Coping merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk menanggani dan menguasai situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya.
Para ahli menggolongkan dua strategi coping yang biasanya digunakan oleh individu, yaitu: problem-solving focused coping, dimana individu secara aktif mencari penyelesaian dari masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stres, dan emotion-focused coping, dimana individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan diitmbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan. Contoh: seseorang cenderung menggunakan problem-solving focused coping dalam menghadapai masalah-masalah yang menurutnya bisa dikontrol seperti masalah yang berhubungan dengan sekolah atau pekerjaan; sebaliknya ia akan cenderung menggunakan strategi emotion-focused coping ketika dihadapkan pada masalah-masalah yang menurutnya sulit dikontrol seperti masalah-masalah yang berhubungan dengan penyakit yang tergolong berat seperti kanker atau Aids.

Faktor yang Mempengaruhi Strategi CopingCara individu menangani situasi:
1. Kesehatan Fisik : Kesehatan merupakan hal yang penting, karena selama dalam usaha mengatasi stres individu dituntut untuk mengerahkan tenaga yang cukup besar
2. Keyakinan atau pandangan positif : Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting, seperti keyakinan akan nasib (eksternal locus of control) yang mengerahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan (helplessness) yang akan menurunkan kemampuan strategi coping tipe : problem-solving focused coping
3. Keterampilan Memecahkan masalah : Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang ingin dicapai, dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat.
4. Keterampilan sosial : Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan bertingkah laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku dimasyarakat.
5. Dukungan sosial : Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga lain, saudara, teman, dan lingkungan masyarakat sekitarnya
6. Materi : Dukungan ini meliputi sumber daya daya berupa uang, barang barang atau layanan yang biasanya dapat dibeli.

Metode Koping
Ada dua metode koping yang digunakan oleh individu dalam mengatasi masalah psikologis seperti yang dikemukakan oleh Bell (1977), dua metode tersebut antara lain:
1. Metode koping jangka panjang, cara ini adalah konstruktif dan merupakan cara yang efektif dan realistis dalam menangani masalah psikologis dalam kurun waktu yang lama, contonhya:
1. Berbicara dengan orang lain.
2. Mencoba mencari informasi yang lebih banyak tentang masalah yang sedang dihadapi.
3. Menghubungkan situasi atau masalah yang sedang dihadapi dengan kekuatan supranatural.
4. Melakukan latihan fisik untuk mengurangi ketegangan.
5. Membuat berbagai alternative tindakan untuk mengurangi situasi.
6. Mengambil pelajaran atau pengalaman masa lalu.
7.
2. Metode koping jangka pendek, cara ini digunakan untuk mengurangi stress dan cukup efektif untuk waktu sementara, tetapi tidak efektf untuk digunakan dalam jangka panjang. Contohnya:
1. Menggunakan alkohol atau obat
2. Melamun dan fantasi.
3. Mencoba melihat aspek humor dari situasi yang tidak menyenangkan.
4. Tidak ragu dan merasa yakin bahwa semua akan kembali stabil.
5. Banyak tidur
6. Banyak merokok.
7. Menangis
8. Beralih pada aktifitas lain agar dapat melupakan masalah.
Penggolongan Mekanisme Koping
Menurut Stuart dan Sundeen, 1995. Mekanisme koping berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi 2 (dua) yaitu :
1. Mekanisme Koping Adaptif
Mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi, latihan seimbang dan aktivitas konstruktif.
2. Mekanisme Koping Maladaptif
Mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah makan berlebihan / tidak makan, bekerja berlebihan, menghindar.

Selasa, 28 Desember 2010

KEBUTUHAN PERSONAL HYGIENE


KEBUTUHAN PERSONAL HYGIENE





A.      KONSEP DASAR
1.    PENGERTIAN
personal hygien berasal dari bahasa yunani yang berarti personal: perorangan dan hiegien: sehat. Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis.
2.    FISIOLOGI KULIT
Sistem integument terdiri dari kulit, lapisan subkutan dibawah kulit dan perlengkapannya, seperti kelenjar dan kuku. Kulit merupakan salah satu bagian penting dari tubuh yang dapat melindungi dari berbagi kuman atau trauma, sehingga diperlukan perawatan yang adekuat (cukup) dalam mempertahankan fungsinya.
Secara anatomis kulit terdiri atas 2 lapis, yaitu:
a.    Lapisan epidermis/ kutikula.
Ø Stratum korneum.
Ø Stratum lusidum.
Ø Stratum granulosum.
b.    Lapisan dermis/ korium
Ø Ujung saraf sensorik
Ø Kelenjar keringat terdiri dari 2 kategori:
1.     Kelenjar ekrin, terdapat disemua kulit.
2.     Kelenjar apokrin, terdapat di aksila, anus, skrotum, labiya mayora, dan bermuara pada folikel rambut.
Ø  Kelenjar sebaseus
Berfungsi mengontrol sekresi minyak ke dalam ruang antara folikel rambut dan batang  rambut yang akan melumasi rambut sehingga menjadi halus dan lentur.



Fungsi Kulit Dan Mukosa Membran:
1.        Proteksi.
2.        Mengontrol Suhu Tubuh.
3.        Sensibilitas.
4.        Keseimbangan Air Dan Elektrolit.
5.        Memproduksi Dan Mengabsorbsi Vitamin D.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kulit:
1.         Umur.
2.         Jaringan Kulit.

3.         Kondisi/ Keadaan Lingkungan.
3.   MACAM-MACAM PERSONAL HYGIEN:
a.       Perawatan kulit kepala dan rambut
Rambut
Rambut merupakan bagian dari tubuh yang memiliki fungsi sebagai proteksi serta pengaruh suhu, melalui rambut perubahan status kesehatan diri dapat didefinisikan.

Terdapat 2 jenis rambut:
1.      Rambut Terminal (Dapat Panjang Dan Pendek).
2.      Rambut Velus (Pendek,Halus,Lembut).
Terdapat 2 jenis rambut:
1.      Fase Pertumbuhan(Anagen)
Kecepatan pertumbuhan bervariasi, rambut janggut tercepat diikuti kulit kepala. Berlangsung sampai dengan usia 6 tahun. 90% dari 100000 folikel rambut kulit kepala normal mengalami fase pertumbuhan pada suatu saat.

2.      Fase Istirahat (Tolegen)
Berlangsung ± 4 bulan, rambut mengalami kerontokan. 50-100 lembar rambut rontok tiap harinya.

Masalah/Gangguan Pada Rambut:
1.      Kutu.
2.      Ketombe.
3.      Botal(alopecial).
4.      Radang pada kulit di rambut (seborrheic dermatitis).

b.      Perawatan mata.
c.       Perawatan teling.
d.      Perawatan mulut daan gigi
Gigi dan mulut adalah bagian terpenting yang harus dipertahankan kebersihannya, sebab melalui organ ini berbagai kuman dapat masuk.

Masalah/gangguan pada mulut dan gigi:

1.      Holitosis, bau napas tak sedap yang dapat disebabkan oleh kuman atau lainnya.
2.      Ginggivitas, radang pada daerah gusi.
3.      Karies, radang pada daerah gigi.
4.      Stomatitis, radang pada daerah mukosa atau daerah rongga mulut.
5.      Peridontal desease (gusi yang mudah berdarah atau bengkak).
6.      Glostitis, radang pada lidah.
7.      Chilosis, bibir yang pecah-pecah.


e.       Perawatan kuku kaki dan tangan
Menjaga kuku merupakan salah satu aspek penting dalam mempertahankan perawatan diri karena berbagai kuman dapat masuk kedalam tubuh melalui kuku. Oleh sebab itu, kuku seharusnya harus dalam keadaan sehat dan bersih.

Masalah atau gangguan pada kuku:
1.      Ingrown nail, kuku tangan yang tidak tumbuh-tumbuh dan dirasakan sakit pada daerah tersebut.
2.      Paronychia, radang pada jaringan disekitar kuku.
3.      Ram’s horn nail, gangguan kuku yang ditandai pertumbuhan yang lambat disertai kerusakan dasar kuku atau infeksi.
4.      Bau tidak sedap, reaksi mikroorganisme yang menyebabkan bau tidak sedap.

f.       Perawatan genetalia
Perawatan diri pada alat kelamin yang dimaksut adalah pada alat kelamin perempuan, yaitu perawatan diri pada organ eksternal yang terdiri atas mons veneris, terletak didalam simpisis pubis, labia mayora, yang merupakan 2 lipatan besar yang membentuk vulva, labia mayora, yang merupakan 2 lipatan kecil diantara atas labia mayora, klitoris (sebuah jaringan eriktil yang serupa dengan penis laki-laki), kemudian bagian yang terkait disekitarnya seperti: uretra, vagina, perineum, dan anus.
g.      Perawatan kulit seluruh tubuh.
h.      Perawatan tubuh secara keseluruhan.

4.        TUJUAN PERSONAL HYGIEN
a.       Meningkatkan derajat kesehatan seseorang.
b.      Memelihara kesehatan diri seseorang.
c.       Mencegah gangguan sirkulasi darah.
d.      Pencegahan penyakit dan infeksi.
e.       Mempertahankan integritas dan jaringan.
f.       Menciptakan rasanyaman serta relaksasi.



5.        FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
a.       Body Image.
b.      Praktik sosial.
c.       Status sosio-ekonomi.
d.      Pengetahuan.
e.       Budaya.
f.       Kebiasaan seseorang.
g.      Kondisi fisik.

6.        DAMPAK YANG SERING TIMBUL PADA MASALAH PERSONAL HYGIENE
a.       Dampak fisik
Gangguan fisik yang sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga, dan gangguan fisik pada kuku.
b.      Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan mencintai dan dicintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi, dan gangguan interaksi sosial.


ASUHAN KEPERAWATAN PADA MASALAH PERAWATAN KULIT
A.    PENGKAJIAN
1.      Riwayat keperawatan
a.       Pola kebersihan tubuh.
b.      Perlengkapan personal hygien yang dipakai.
c.       Faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygien.
2.      Pemerisaan fisik
a.       Warna kulit
b.      Kelembaban kulit
c.       Tekstur kulit
d.      Kulit kepala

B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gannguan integritas kulit berhubungan dengan :

Kemungkinan penyebab          : Perubahan Sirkulasi.
Imobilitas Lama.
Endema.
Inkontinesia Urine.
Malnutrisi.

Kemungkinan ditemukan data : kerusakan jaringan kulit.
Ganggren.
Dekubitus.
Kelemahan fisik.
Kondisi klinis                          : strok.
Faktur femur.
Koma.
Trauma medulla spinalis.
Tujuan                                     :
1.      Menghilangkan atau membersihkan bau badan, keringat dan sel yang mati.
2.      Merangsang sirkulasi darah, mengendorkan otot, dan membuat rasa nyaman.
Tujuan yang diharapkan          :
1.      Pola kebersihan diri pasien normal.
2.      Keadaan kulit kepala bersih.
3.      Klien dapat mandiri dalam kebersihan diri.



C.     PERENCANAAN KEPERAWATAN
NO.
INTERVENSI
RASIONAL
1.
Kaji kembali pola kebutuhan personal hygien pasien
Data dasar dalam melakukan intervensi.
2.
Kaji keadaan luka pasien.
Menentukan intervensi lebih lanjut
3.
Jaga kulit utuh dan kebersihan kulit pasien dengan cara membantu mandi pasien.
Meng hindari resiko infeksi kulit.
4.
Jaga kebersihan tempat tidur, selimut bersih dan kencang.
Mengurangi luka dan menghindari luka dekubitus.
5.
Lakukan perawatan luka dengan teknik steril sesuai dengan program.
Penyembuhan luka.
6.
Lakukan pijat kulit dan luka.
Pencegahan infeksi secara dini.
7.
Perubahan posisi setiap 2 jam.
Mencegah dekubitus.


D.    TINDAKAN KEPERAWATAN
1.      Memandikan klien di tempat tidur
Tindakan keperawatan dilakukan pada pasien yang tidak mampu mandi sendiri dengan cara memandikan di tempat tidur. Tujuanya adalah menjaga kebersihan tubuh, mengurangi infeksi akibat kulit kotor, memperlancar peredaran darah dan menambah kenyamanan pasien.

E.     EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi keperawatan secara umum menilai dalam :
1.      Mempertahankan kebersihan perawatan kulit secara efektif.
2.      Mempertahankan sirkulasi darah, mengendorkan otot, dan membuat tubuh terasa nyaman.



ASUHAN KEPERAWATAN PADA MASALAH KUKU
A.   PENGKAJIAN
Pengkajian yang perlu dilakukan adalah penilaian tentang keadaan warna bentuk,keadaan, dan pertumbuhannya.

Masalah atau gangguan pada kuku:
5.      Ingrown nail, kuku tangan yang tidak tumbuh-tumbuh dan dirasakan sakit pada daerah tersebut.
6.      Paronychia, radang pada jaringan disekitar kuku.
7.      Ram’s horn nail, gangguan kuku yang ditandai pertumbuhan yang lambat disertai kerusakan dasar kuku atau infeksi.
8.      Bau tidak sedap, reaksi mikroorganisme yang menyebabkan bau tidak sedap.

B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
Resiko terjadi luka (infeksi) berhubungan dengan proses masuknya kuman akibat garukan dari kuku.

C.    PERENCANAAN KEPERAWATAN
Tujuan:
1.      Menjaga kebersihan tangan dan kaki.
2.      Mencegah timbulnya luka (infeksi).
3.      Mencegah kaki berbau tidak sedap.
4.      Mengkaji/memantau masalah pada kuku tangan dan kaki.
D.    TINDAKAN KEPERAWATAN
Memelihara kebersihan kuku.
E.     EVALUASI
Evaluasi secara umum menilai adanya kemampuan untuk mempertahankan kebersihan kuku, ditandai dengan keadaan kuku yang bersih, tidak ada radang disekitar kuku, pertumbuhan baik, dan tidak ada bau yang khas dari kuku.


ASUHAN KEPERAWATAN PADA MASALAH RAMBUT
A.    PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan pada warna, ukuran, serta susunan rambut. Selain itu, kaji jenis rambut apakah berminyak atau kering, kaji pola pertumbuhan rambut, apakah pola cepat atau lambat, sedikit atau banyak jumlah kerontokannya.

B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan kutu pada daerah kulit kepala.
2.      Resiko gangguan konsep diri (body image) berhubungan dengan kehilangan rambut(misal akibat kemoterapi).

C.    PERENCANAAN KEPERAWATAN
1.      Mencegah infeksi kepala dengan cara perawatan rambut seperti mencuci, menyisir, atau mencukur rambut.
2.      Meningkatkan konsep diri (body image) dengan cara memberikan motivasi terhadap kemampuan pertumbuhan rambut.

D.    TINDAKAN KEPERAWATAN
Mencuci rambut/ keramas.

Tujuan:
1.      Memberikan perasaan senang dan segar pada klien.
2.      Rambut tetap bersih, rapi dan terpelihara.
3.      Merangsang peredaran darah dibawah kulit kepala.
4.      Membersihkan kutu dan ketombe.
Dilakukan:
1.      Jika rambut kotor.
2.      Pada klien yang akan menjalani oprasi.
3.      Secara rutin 5hari sekali, jia keadaan klien memungkinkan.
4.      Setelah dipasang kap kutu.


E.     EVALUASI
Evaluasi secara umum menilai adanya kemampuan untuk mempertahankan kebersihan rambut yang ditandai dengan keadaan rambut (segar, tidak rontok), tidak ada tanda radang pada kulit kepala dan pertumbuhannya baik.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA MASALAH GIGI DAN MULUT
A.    PENGKAJIAN
1.      Perawatan Mulut
·         Keadaan mukosa mulut.
·         Kelembapannya.
·         Kebersihan.
2.      Perawatan Gigi
·         Adakah karang gigi.
·         Adakah karies.
·         Kelengkapan gigi.
·         Pertumbuhan.
·         Kebersihan.

B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gangguan membran mukosa mulut.
Definisi: kondisi dimana mukosa pasien mengalami luka.

Kemungkinan berhubungan:
a.       Trauma oral.
b.      Pembatasan intake cairan.
c.       Pemberian kemoterapi dan radiasi pada kepala dan leher.
Kemungkinan data yang ditemukan:
a.       Iritasi/luka pada mukosa mulut.
b.      Peradangan/infeksi.
c.       Kesulitan dalam makan dan menelan.
d.      Keadaan mulut yang kotor.
Tujuan yang diharapkan:
a.       Keadaan mukosa mulut, lidah dalam keadaan utuh, warna merah muda.
b.      Inflamasi tidak terjadi
c.       Klien mengatakan rasa nyaman.
d.      Keadaan mulut bersih.

C.    PERENCANAAN KEPERAWATAN
No.
INTERVENSI
RASIONAL
1.
Kaji kembali pola kebersihan mulut.
Data dasar dalam melakukan intervensi.
2.
Lakukan kebersihan mulut sesudah makan dan sebelum tidur.
Membersihkan kotoran dan mencegah karang gigi.
3.
Gunakan sikat gigi yang lembut.
Mencegah pendarahan.
4.
Gunakan larutan garam/baking soda dan kemudian bilas dengan air bersih.
Larutan garam/soda membantu melembapkan mukosa, meningkatkan granulasi, dan menekan bakteri.
5.
Lakukan pendidikan kesehatan tentang mulut.
Mencegah gangguan mukosa.
6.
Laksanakan program terapi medis.
Membantu menyembuhkan luka/infeksi.


D.    TINDAKAN KEPERAWATAN
Menyikat gigi.
Tujuan:
1.      Supaya mulut dan gigi tetap sehat, bersih dan tidak bau.
2.      Mencegah terjadinya infeksi (stomatitis, karies gigi, dll.)
3.      Memberi perasan segar pada klien.
4.      Melaksanakan kebersihan perorangan sebagai salah satu usaha penyuluhan kesehatan masyarakat.
5.      Meningkatkan daya tahan tubuh.



E.     EVALUASI
Evaluasi secara umum menilai adanya kemampuan untuk mempertahankan kebersihah gigi dan mulut yang ditandai dengan gigi dan mulut bersih, tidak berbau, dan tidak adanya tanda radang/ infeksi.